Pemilu Serentak 17 April 2019 semakin dekat, reklame berupa baliho dan spanduk kian bertebaran di setiap sudut jalan. Memajang foto dan ...[read more] "> Pemilu Serentak 17 April 2019 semakin dekat, reklame berupa baliho dan spanduk kian bertebaran di setiap sudut jalan. Memajang foto dan " />
Rabu, 20 Maret 2019
Follow Us:
21:13 WIB - Bawaslu Inhu Pastikan 68.000 Lebih Surat Suara Dapil 4 Tidak Dapat Dipakai | 21:13 WIB - Tabrakan, Ketua KPU Inhil Dilarikan ke Awal Bros | 21:13 WIB - Kisah Alfedri, Si Penjala Ikan hingga menjadi Bupati Kabupaten Siak | 21:13 WIB - Sekda Meranti : Prestasi Sepak Bola Harus Ada Peningkatan | 21:13 WIB - Muslimawati Minta PKK Kampar Desa Proaktif Jalankan Program | 21:13 WIB - Pemda Meranti Ikuti Rakor, Bahas Isu-isu Aktual
/ Politik / Hasil Survei Ini Perlu Diketahui Para Caleg /
Hasil Survei Ini Perlu Diketahui Para Caleg
Kamis, 07 Maret 2019 - 22:45:33 WIB

BALIKPAPAN (BIDIKONLINE.COM)- Pemilu Serentak 17 April 2019 semakin dekat, reklame berupa baliho dan spanduk kian bertebaran di setiap sudut jalan. Memajang foto dan nomor urut para kontestan yang berlaga.

Namun, efektifkah kampanye dengan alat peraga tersebut? Di tengah krisis kepercayaan pemilih. Saat jumlah golongan putih (golput) tak pernah surut.

Tim Riset Kaltim Post melakukan jajak pendapat pada 26-27 Februari lalu. Tajuknya, seberapa efektif gaya ka mpanye Pemilihan Legislatif (pileg) dan Pemilihan Presiden (pilpres) 2019. Yang masih menerapkan cara lama. Reklame berupa baliho dan spanduk memenuhi sejumlah titik jalan di semua daerah di Kaltim. Bahkan cenderung merusak estetika kota.

Hasilnya pada 28 Februari, 71,43 persen pembaca yang mengikuti jajak pendapat menyebut reklame sudah tidak efektif sebagai metode kampanye. Sementara 28,57 persen mengatakan kurang efektif. Tak ada yang menyebut metode ini efektif alias nol persen.
Pengamat politik dari Universitas Mulawarman Samarinda Sonny Sudiar dengan gamblang menyebut reklame sebagai bentuk kampanye hanya buang-buang uang. Alias boros. Tak akan efektif menggaet suara pemilih. Penelitiannya, alat peraga kampanye (APK) model ini hanya bisa mengangkat 5 persen suara.

“Ada dua dampak adanya reklame. Menjadi informasi kepada khalayak ramai. Di sisi lain memunculkan antipati dari pemilih,” ujar Sonny.

Antipati muncul ketika APK mengganggu estetika kota dan menjadi sampah demokrasi. Saat reklame kondisinya rusak dan mengotori lingkungan. Menjadi tidak efektif karena begitu banyak calon legislatif yang harus dilihat. Memang dengan banyaknya reklame, mampu meningkatkan popularitas. Namun, populer saja tak cukup. (RPC)


Berita Lainnya :
  • Bawaslu Inhu Pastikan 68.000 Lebih Surat Suara Dapil 4 Tidak Dapat Dipakai
  • Tabrakan, Ketua KPU Inhil Dilarikan ke Awal Bros
  • Kisah Alfedri, Si Penjala Ikan hingga menjadi Bupati Kabupaten Siak
  • Sekda Meranti : Prestasi Sepak Bola Harus Ada Peningkatan
  • Muslimawati Minta PKK Kampar Desa Proaktif Jalankan Program
  • Pemda Meranti Ikuti Rakor, Bahas Isu-isu Aktual
  • Sekda Kampar Hadiri Rakor dengan Gubri dan Forkopimda Riau
  • Alfedri Laporkan Kesiapan Pelaksanaan Pemilu Serentak 2019
  • Sekda Kampar Laporkan Kondisi Jalan Lingkar ke Gubri
  •  
    Komentar Anda :
       


    Galeri   + Index Galeri
    Memperingati Hari Jadi Rohul ke - 18, DPRD Gelar Rapat Paripurna Istimewa

    Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Lintas Nusantara | Kepulauan Nias
    Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
    Profil | Redaksi | Index
    Pedoman Berita Siber

    Copyright © 2009-2016 bidikonline.com
    Membela Kepentingan Rakyat Demi Keadilan