BANGKINANG (Bidikonline.com) - Ratusan guru dan tenaga teknis berstatus tenaga honorer K2 Pemerintah Kabupaten Kampar mendatangi DPRD Kabup...[read more] "> BANGKINANG (Bidikonline.com) - Ratusan guru dan tenaga teknis berstatus tenaga honorer K2 Pemerintah Kabupaten Kampar mendatangi DPRD Kabup" />
Senin, 24 09 2018
Follow Us:
Minggu, 23 September 2018 - 13:40 WIB
SBY WO dari Kampanye Damai
Minggu, 23 September 2018 - 13:30 WIB
Bendera Partai di Disediakan KPU
Minggu, 23 September 2018 - 13:22 WIB
SBY Abaikan Komitmen Kampanye
13:22 WIB - 'Satu Jari' di Kampanye Damai | 13:22 WIB - Tak Serahkan Laporan Dana Kampanye | 13:22 WIB - SBY WO dari Kampanye Damai | 13:22 WIB - Bendera Partai di Disediakan KPU | 13:22 WIB - SBY Abaikan Komitmen Kampanye | 13:22 WIB - Yenny dan Dahlan Iskan Tolak Timses
/ Kampar / Guru dan Honorer K2 Minta Diangkat Jadi ASN /
Buka Bobroknya Pengangkatan Honorer Sebelumnya,
Guru dan Honorer K2 Minta Diangkat Jadi ASN
Selasa, 10 April 2018 - 19:55:56 WIB
BANGKINANG (Bidikonline.com) - Ratusan guru dan tenaga teknis berstatus tenaga honorer K2 Pemerintah Kabupaten Kampar mendatangi DPRD Kabupaten Kampar guna mengikuti hearing (rapat dengar pendapat) dengan DPRD Kabupaten Kampar, Senin (9/4/2018).

Kedatangan ratusan guru ini membuat ruangan Badan Anggaran DPRD Kampar penuh sesak dan pengab karena pendingin ruangan mati.

Hearing dipimpin Wakil Ketua Komisi II DPRD Kampar Iib Nursaleh dan  dihadiri Ketua DPRD Kampar Ahmad Fikri serta anggota Komisi II Hendra Yani, Firman Wahyudi dan anggota Komisi I Syahrul Aidi Maazat. Hadir pula dalam hearing ini Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kampar Santoso bersama sejumlah staf.

Pada pertemuan ini beberapa perwakilan guru dan tenaga teknis menyampaikan keluh kesah mereka selama menjadi tenaga honorer.

Koordinator Forum Honorer K2 Kampar Rosmaniar mengungkapkan, saat ini ada  625 orang guru berstatus honorer K2.

Kedatangan mereka ke gedung wakil rakyat adalah meminta kejelasan dan keadilan atas nasib mereka yang tak kunjung diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN).

"Kami berjuang mengabdi kepada negara sudah belasan tahun bahkan sampai puluhan tahun. Sebagian hanya digaji Rp 500 ribu sebulan, setiap hari mengabdi.

Ia juga mengungkapkan kebobrokan dalam pengangkatan tenaga honorer K2 sebelumnya. "Lama kami sabar menunggu kapan realisasi janji pemerintah, sementara mereka tak berjuang telah lebih dulu mengecap nikmatnya menjadi PNS," ungkap Rosmaniar.

Menurutnya, sudah selayaknya mereka menuntut dan meminta keadilan karena ratusan guru sudah memberikan apa yang diminta oleh negara. "Memang untuk PNS harga mati. Itu yang kami minta," ucapnya disambut teriakan dan tepuk tangan ratusan honorer.

Meski banyak suara yang menyampaikan jika Pemkab Kampar tidak menanggapi permintaan para honorer maka sebaiknya langsung menyampaikan aspirasi ke pemerintah pusat, namun Forum Honorer K2 bertekad tetap akan melalui prosedur. "Kami tak ingin dibilang membelakangi pemerintah kita. Pemkab Kampar perjuangkan kami. Kami dengar di Probolinggo karena giatnya perjuangan Pemkab, sudah membuahkan hasil,"  bebernya.

Tenaga honorer lainnya Jamal Wahdi, teknisi di SMPN 1 Tapung mengungkapkan, telah belasan tahun ia dan tenaga teknisi lainnya hanya menerima honor Rp 250 ribu sebulan.

Sementara itu, salah seorang guru honorer  Muslim mendesak pemerintah pusat mengangkat tenaga honorer menjadi ASN  tanpa memandang batasan usia sebab banyak diantara tenaga honorer yang betul-betul mengabdi hingga puluhan tahun.

"Segera tandatangani revisi Undang-undang ASN untuk dapat disahkan menjadi undang-undang," katanyam.

Ia juga membeberkan nasib keluarga para honorer karena banyak diantara mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan tidak bisa menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.

"Kami selalu meratap dan mengeluarkan air mata. Saya selalu meminjam, termasuk kepada Pak Sofyan (pejabat di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kampar red," ucap bapak berusia 55 tahun ini yang sudah mengabdi mulai tahun 2003.

Tenaga honorer lainnya asal XIII Koto Kampar Muhammad Najuan dalam kesempatan ini membeberkan kecurangan dalam pengangkatan PNS dari tenaga honorer sebelumnya yang merugikan tenaga honorer yang benar-benar honorer dan bekerja. Ia tidak ingin sistem penerimaan dan kebobrokan permainan ini terulang kembali.

Ia juga minta pengakuan secara legalitas tenaga honorer dari Pemkab Kampar agar kelak tidak ada lagi tenaga honorer siluman arau bodong yang menyusup saat proses pengangkatan.

"Kami tak ingin menjadi korban kedua kali. Karena ini sangat memprihatinkan. Gak usah saya sampaikan karena saya tahu permainannya. Saya korban K2 tahun 2013," beber Najuan.(rtc)


Berita Lainnya :
  • 'Satu Jari' di Kampanye Damai
  • Tak Serahkan Laporan Dana Kampanye
  • SBY WO dari Kampanye Damai
  • Bendera Partai di Disediakan KPU
  • SBY Abaikan Komitmen Kampanye
  • Yenny dan Dahlan Iskan Tolak Timses
  • Jokowi Nomor 1 vs Prabowo Nomor 2
  • Alfedri Hadiri Gerakan Penanaman Mangrove
  • Bupat Siak Terima Penghargaan Dari Menkeu
  •  
    Komentar Anda :
       


    Galeri   + Index Galeri
    Memperingati Hari Jadi Rohul ke - 18, DPRD Gelar Rapat Paripurna Istimewa

    Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Lintas Nusantara | Kepulauan Nias
    Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
    Profil | Redaksi | Index
    Pedoman Berita Siber

    Copyright © 2009-2016 bidikonline.com
    Membela Kepentingan Rakyat Demi Keadilan