JAKARTA (Bidikonline.com) - Untuk bisa lolos dari jerat hukum yang didakwakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, pengacara senior Fredrich ...[read more] "> JAKARTA (Bidikonline.com) - Untuk bisa lolos dari jerat hukum yang didakwakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, pengacara senior Fredrich " />
Sabtu, 20 Oktober 2018
Follow Us:
Kamis, 18 Oktober 2018 - 19:02 WIB
Kepala Daerah Abaikan Panggilan Bawaslu
Kamis, 18 Oktober 2018 - 09:40 WIB
KPK Telusuri Keterlibatan Pihak Lain
Rabu, 17 Oktober 2018 - 19:21 WIB
Alfedri Serahkan Dana Kemitraan
19:21 WIB - Bupati Inhil Benarkan Informasi Proyek Preservasi | 19:21 WIB - Pemprov Dan BPH Migas Optimalkan Pemanfaatan Data Pengguna BBM | 19:21 WIB - Firdaus Jadi Kandidat | 19:21 WIB - Kepala Daerah Abaikan Panggilan Bawaslu | 19:21 WIB - Ahmad Dhani Melawan Status Tersangka | 19:21 WIB - Fuadi : Siap Bermitra Dengan MOI
/ Hukum / Fredrich: Mereka Barisan Sakit Hati dan Tukang Tipu /
Kesal ke Penyidik KPK,
Fredrich: Mereka Barisan Sakit Hati dan Tukang Tipu
Jumat, 09 Februari 2018 - 15:53:27 WIB
JAKARTA (Bidikonline.com) - Untuk bisa lolos dari jerat hukum yang didakwakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, pengacara senior Fredrich Yunadi terus melakukan berbagai upaya.

Di persidangan perdana, dia menyinggung soal status penyidik KPK yang versinya disebut pecatan dari kepolisian. Akibarnya, penyidik jadi melampiaskan emosi dan bertindak di luar kewenangan.

Adapun kekecewaan Fredrich lantaran telah didakwa KPK tampaknya sudah memuncak. Karena itu, di hadapan majelis hakim, dia menyebut jika penyidik KPK terbentuk dari polisi yang dipecat lantaran mempunyai kasus.

"Mereka ini (penyidik KPK) adalah mantan-mantan polisi yang dipecat karena kasusnya," ujarnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jalan Bungur Raya, Jakarta Pusat, Kamis (8/2/2018).

Para penyidik itu dipecat, imbuhnya, pada era Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan saat masih di kepolisian. Akibat pemecatan itulah, sambungnya, penyidik menjadi sakit hati. Ketika bergabung ke KPK, penyidik itu bertindak kelewatan untuk balas dendam.

"Saya punya SK (Surat Keputusan) kapan mereka dipecatnya itu. Karena mereka itu sakit hati," tuturnya.

Dia menyatakan hal itu lantaran kesal terhadap penyidik KPK yang dianggap sudah bekerja di luar kewenangannya. Mantan pengacara Setya Novanto itu bahkan menuding kalau jaksa KPK sudah menipu publik dengan melakukan pendakwaan terhadapnya.

"Sudah tahu kalau jaksa penuntut umum KPK tukang tipu," bebernya.

Dia pun harus berhadapan dengan hakim PN Tipikor karena menjadi tersangka oleh KPK setelah dituduh menghalang-halangi penyidikan terhadap Setya Novanto. Misalnya, saat dianggap merekayasa agar Setya Novanto dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau.

Fredrich pun bahkan diduga telah memesan kamar pasien sebelum Novanto mengalami kecelakaan tunggal. Di samping itu, dia juga meminta dokter RS Medika Permata Hijau untuk merekayasa data medis Setya Novanto.

Adapun langkah itu dilakukan untuk menghindari pemeriksaan penyidik KPK. Kala itu, Novanto telah berstatus tersangka kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Fredrich dalam kasus itu didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.(rpc)


Berita Lainnya :
  • Bupati Inhil Benarkan Informasi Proyek Preservasi
  • Pemprov Dan BPH Migas Optimalkan Pemanfaatan Data Pengguna BBM
  • Firdaus Jadi Kandidat
  • Kepala Daerah Abaikan Panggilan Bawaslu
  • Ahmad Dhani Melawan Status Tersangka
  • Fuadi : Siap Bermitra Dengan MOI
  • DPRD Pelalawan Gelar Rapat Paripurna Istimewa
  • Gubri Tinjau Pembangunan Dua Fly Over di Simpang Ska dan Pasar Pagi
  • KPK Telusuri Keterlibatan Pihak Lain
  •  
    Komentar Anda :
       


    Galeri   + Index Galeri
    Memperingati Hari Jadi Rohul ke - 18, DPRD Gelar Rapat Paripurna Istimewa

    Home | Daerah | Nasional | Hukum | Politik | Olahraga | Entertainment | Foto | Galeri | Advertorial | Lintas Nusantara | Kepulauan Nias
    Pekanbaru | Siak | Pelalawan | Inhu | Bengkalis | Inhil | Kuansing | Rohil | Rohul | Meranti | Dumai | Kampar
    Profil | Redaksi | Index
    Pedoman Berita Siber

    Copyright © 2009-2016 bidikonline.com
    Membela Kepentingan Rakyat Demi Keadilan